Menjemput Rezeki dengan Berjualan Terompet Tahun Baru

Suwandi (53) dan Suwarti (51) adalah pasangan suami istri yang sedang sibuk membuat terompet tahun baru, untuk dijual. Dari gerakan tangan mereka yang cekatan tak heran jika dalam waktu sekejap bisa membuat puluhan bahkan ratusan terompet dengan bentuk beraneka ragam. Tiap menjelang Tahun Baru, pasangan suami istri ini sengaja datang ke Surabaya untuk menjajakan hasil karya mereka. Warga asal Sukodadi Sumber Agung Lamongan ini memanfaatkan emperan sebuah toko yang suduah tidak digunakan, di pinggiran Jalan Kapasan, kota Surabaya. Suwandi mengaku mereka sudah menjual terompet dari kerkas hasil karya mereka sejak tahun 1987 silam. Sekian lama berdagang, Suwandi menuturkan peminat terompet semakin menurun.

terompet

“Kami melayani pembelian grosir dan eceran. Nah yang sepi itu yang beli eceran. Tapi kalau rejeki pasti ada saja. Cuma memang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya. Sejak 15 hari sebelum tahun baru, Suwandi dan Istri sudah merantau ke kota Surabaya. Selama itu mereka tidur dan menjajakan dagangan di tempat yang sama.

“Dari tanggal 14 Desember kami sudah di ada sini, selama 15 hari. Dagangan habis tidak habis kami pulang,” katanya tegas. Menjual terompet memang bukan profesi keseharian Suwandi dan Istri. Dirinya hanya menjual terompet musiman saat menjelang Natal, Tahun Baru dan Imlek. Setelah itu pria yang akrab disapa Wandi ini adalah penjual mainan di Pasar Pesapen Surabaya,sementara sang istri seorang petani di Lamongan.

“Biasanya total kami bisa dapat Rp 5 juta sampai Rp 4 juta. Tahun kemarin kami dapat bahkan nggak sampai Rp 3 juta, dengan harga terompet kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 25 ribu,” tambah Suwarti.

Penurunan jumlah konsumen terompet ini menurut Suwandi karena banyak faktor. Salah satunya adalah dengan banyaknya terompet yang diproduksi dari plastik.

“Perkiraannya begitu. Soalnya menurut mereka terompetnya lebih awet. Untuk itu produksi terompet, kami selalu perbarui. Inovasi. Misalnya dilapisi kertas hias yang menarik, lalu katup peluitnya dibuat dari bambu jadi tidak mudah rusak,” jelas bapak dua anak ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *